PT Honda Prospect Motor (HPM) menjelaskan bahwa seluruh produksi mobil Honda yang dijual di Indonesia menggunakan komponen semikonduktor. Salah satu yang terkena dampak krisis chip ini adalah Honda Brio. Dalam keterangan resmi perusahaan, penangguhan produksi disebabkan oleh kekurangan suku cadang, termasuk di dalamnya kekurangan pasokan semikonduktor, akibat penyebaran Covid-19 di Asia Tenggara dan faktor lainnya.

Honda Motor Co baru-baru ini telah menyebutkan bahawa, produksi mereka di Jepang hanya berjalan sekitar 0% dari rencana semula untuk periode Agustus hingga September 2021. Hal ini disebabkan krisis chip dan keterlambatan produksi pasokan suku cadang akibat adanya pandemi covid-19. Menurut laporan Hindustan Times, pembuat mobil Jepang hanya dapat memproduksi sekitar 70% dari kendaraan pada bulan Oktober dibandingkan dengan rencana semula.

Dengan terbatasnya pasokan chip, Honda terpaksa menghentikan pabriknya di Suzuka dan Sayama. Perusahaan otomotif asal Jepang itu juga berncana memangkas pasokan N-Box dan Stepwgn. Akibat dari krisis tersebut, Honda memprediksi penjualan mobil globalnya di tahun 2021 ini akan mengalami penurunan hingga 150.000 unit dari perkiraan awal menjadi 4,85 juta unit saja. Masalah lain yang dialami Honda adalah antrean pemesanan yang panjang hingga lebih dari satu tahun. Terutama untuk pemesanan Honda Vezel. Sejumlah kasus lain kei car N-One juga mundur hingga lebih dari enam bulan.

Honda ternyata telah memprediksi dampak yang ditimbulkan oleh langkanya chip tersebut bakal terus berlanjut hingga bulan depan. Oleh karena itu, pihak Honda saat ini tengah berupaya meminimalisir dampak krisis chip dan pasokan suku cadang di perusahaan. Mereka juga masih mendalami dampak lain yang akan ditimbulkan dari masalah tersebut.

Pengurangan 10 juta unit akan menjadikan penjualan sekitar 74 juta unit saja. Ini setera dengan penjualan yang berlangsung pada tahun 2020 lalu. Saat itu produsen mobil terdampak pandemi Covid-19. BCG menilai bahwa pasokan chip tidak akan aman hingga paruh kedua tahun 2022 mendatang. Hal ini telah diprediksi oleh Boston Consulting Group (BCG). Masalah krisis chip ini tak hanya melanda Honda saja, namun pesaing terberatnya, Toyota Motor co juga mengalami hal serupa. Masih dari sumber yang sama, Toyota dikabarkan bakal menutup pabriknya pada Oktober 2021.

Baca Juga, Mobil Honda E Ternyata Sudah Terdaftar di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here